-->

Sabtu, 27 Agustus 2011

Luna berada di sebuah kafe,musik up-beat dan kerlap-kerlip memenuhi ruangan,tampang-tampang tak di kenal silih berganti lalu lalang didepan wajah luna ..,
sepertinya saat ini sedang berlangsung party..selain having fun,saat seperti ini biasa'nya juga di gunakan mencuci mata/mencari kenalan baru.
Didepan'nya tiba-tiba berhenti seorang cowok yang sedang berjalan...menurut luna cowok itu keren...meski ruangan gelap,luna tetap bisa menilai cowok itu..
Tubuh cowok itu tinggi,mungkin 178 cm tampang cakep,garis wajah yang tegas,rambut lurus,agak panjang di biarkan jatuh menutupi sebagaian wajahnya hingga terkesan cool,badan'nya atletis khas cowok-cowok suka sport .seulas senyum di berikan cowok itu untuk dara cantik luna..

Luna terpesona melihatnya..
Selain kagum ..
Luna juga merasa pernah kenal dan melihat cowok itu sebelum'nya..
Tapi entah dimana luna lupha..

"perkenalkan duhai gadis cantik,
namaku arai ,
nama lengkapku..."cowok itu belum selesai memperkenalkan,wajah terpesona luna berubah menjadi kaget..
"arai?
Nazriel arai putra irham?"tanya luna memastikan,
cowok thu tersenyum tipis lagi dan mengangguk...
'what?
Arai?
Kok beda yha?
Cakep,putih tinggi lagi'batin luna
luna lantas mencubit tangan'nya tapi....
"awwww"teriak luna kesakitan..
Luna lantas bangun dari tidurnya,
luna meringis kesakitan dan melihat warna merah di lengan'nya karna dia cubit sendiri..
Luna yang masih kaget di buat tambah kaget melihat harmonie yang bermain laptop luna di pojok kamar luna serta modem luna...
"harmonie..."teriak luna
"ya ampun luna napa pake teriak?
Aku gak budeg tau.."kata harmonie
"siapa suruh loe masuk kamar gue?
Pke laptop gue juga"kata luna kesal
"tadi nyokap loe kok yang ijin'n..,
eh,liat dech cwok nie"kata harmonie
"nazriel arai putra irham?!"kata luna mengingat mimpi tadi
"apa lun?nama'y siapa tadi"tanya harmonie
"agh luphakan,,
gak penting,,
gue mandi dlu"kata luna lalu kekamar mandi

>>seusai luna mandi
"harmonie kamu masih pke modem gue?"kata luna emosi
"bentar lun,,
gue baru cari info tentang pengusaha nama'y irham"kata harmonie
"hah irham?"kata luna teriak lagi
"busyet luna,
lu teriak di kuping aku tau,,
biasa jha mbak,
dha apa sich?
jgan2 kamu ngefans yha?
Sama kayak gue"goda harmonie
"nama'y siapa?"tanya luna
"NAZRIEL ARAI PUTRA IRHAM"kata harmonie
"what?NAZRIEL ARAI PUTRA IRHAM?"kata luna
"kenapa?"tanya harmonie
"tau agh pusing "kata luna lalu mengajak harmonie makan...

>>saat di meja makan...
"luna mau jalan-jalan yha bu"pamit luna
"ya,ntar mlem kamu jadi kan ke jakarta?"tanya mama dinita
"ya tapi ibu nanti sendiri,,"kata luna
"tak apa,
nanti joanne kakakmu datang bersama ayahmu"kata ibu dinita
"lun,kamu mau ngapain disana?"tanya harmonie
"mau ketemu someone"kata luna
"pacar baru ya tante?"tanya harmonie pada ibu luna,
tanpa berkata apa-apa luna memukulkan sendok makan'nya pada harmonie
"sakit tau,"kata harmonie mengusap-usap kepalanya
"makan'nya punya mulut di jaga"kata luna kesal
"maaf"kata harmonie
"udah yuk,
ntar kesiangan jalan'nya"kata luna

>>luna dan harmonie jalan-jalan membeli buah tangan untuk nenek yanti,
sekitar 1 dus besar luna membeli aneka buah tangan
>>malam harinya sesampai di jakarta luna sudah di jemput orang suruhan nek yanti..
tak lama luna sampai di depan rumah nek yanti..
Luna di buat bengong melihat nek yanti,
pakaian'n tak pas pada nek yanti yang kental adat jawa,,
"luna ada apa?"tanya nenek yanti membuyarkan lamunan luna
"ogh tak apa nek...
Nenek beda aja,
cantik"kata luna
"lun,ayo masuk dulu"kata nenek yanti mengalihkan

luna tak kaget begitu masuk dalam istana emas itu...
MUNGKIN bagi pengusaha kelas 1 seperti nek yanti sangat suka kemewahan ,tapi buat luna,
tidak,
banyak kepura-pura'an,berkesan dingin,tak ada kehangatan antar penghuni dan lebih pantas di sebut sangkar emas
"ayo luna kita ketaman belakang "ajak nek yanti
"arai belum pulang?"tanya luna
"hm.. Hm..
Kamu suka sama arai"tanya nek yanti sembari duduk di ikuti luna
"hah?
Suka?
Yang benar saja?
Kalo arai memang cowok 1'1nya yang tersisa di dunia maka aku akan suka dia"kata luna sembari tertawa
di ikuti nenek
"nenek tebak aku bawa apa?"kata luna tersenyum penuh arti
"apa thu sayang??"tanya nek yanti
"sesuatu yang nenek suka dari jogja"kata luna
"bakpia?ampyang?brownies kukus amanda?ato apa?"tanya nenek yanti penuh semangat
"bakpia?ampyang?brownies kukus amanda?ato apa?"tanya nenek yanti penuh semangat
"kalo dari yang disebut nenek tadi luna cuma bawa bakpia,
ada lagi"kata luna cengar-cengir
"em,biar nenek tebak lagi,
geplak?yangko?jenang ketan?wajik?ato abon khas ibumu?"tanya nenek
"thu ada semua,
tapi ada lagi,"kata luna
"sepertinya yang nenek suka dari jogja sudah disebut semua,,"kata nenek
"ya nenek sich nyebutnya makanan yang nenek suka"kata luna
"lalu apa?"tanya nenek..
"luna bawa 2 kain batik tulis asli "kata luna
"sayang tapi thu mahal"kata nenek
"gak apa2"kata luna

Senin, 01 Agustus 2011

Namaku aluna azkyla kiaradiva,
aku berasal dari keluarga sederhana dan penuh kehangatan cinta,,,
keluarga kami bisa di bilang kaya, namun kami slalu rendah hati ,sukar menolong dan tak pernah melibatkan pembantu dalam setiap tugas kami,,
setiap minggu kami selalu meluangkan waktu bersama,,
nenek aku mempunyai sahabat nama'nya nenek yanti,
walau nenekku sudah tak ada tapi tali saudara antara keluarga nenek yanti dan kami tetap ada,,
nenek yanti mempunyai cucu nama'y arai,,
terakhir ketemu 7 tahun lalu saat aku kelas 6,,

suatu hari nenek yanti menelponku,
"hallo luna"sapa nek yanti
"hallo juga nek,"kataku
"bagaimana kabarmu nak?"tanya nek yanti
"baik nek,,
nenek sendiri?"tanya luna,
"baik juga,
lun,liburan kali ini mau kmana?"tanya nek yanti
"gak kemana-mana,,"kata luna
"berkunjunglah ke jakarta,
nenek rindu padamu ,"kata nek yanti
'uwah,gue malez bgtz ketemu arai,
dari dulu thu anak musuh gue,,
skap'y bossy,kaku,nyebelin,
apa harus aku tinggal di sana?
Ya walau sebentar tapi,,'batin luna,,
"luna,
lun,"panggil nek yanti ,
sontak luna kaget
"ya ada apa nek"kata luna gelagapan,,
"nenek tunggu,
nenek di sini kesepian"kata nenek lalu menutup telp,
sejak di telp nenek yanti,
luna melamun,
ia duduk d smping jendela,,
luna mengingat kejadian saat dulu kala,,
luna di minta ikut datang,,
saat baru saja turun dari mobil,arai sudah nyengir terhadap luna ,
cri khas senyum licik jika ingin mengodaku,

luna hanya diam sembari di gandeng ayahnya,
baru sedetik ayah luna melepaskan tangan,bisa-bisanya arai berlari dan menarik rambut luna dengan keras,

"pa,,arai"luna langsung mengadu,
namun belum selesai kalimat tersusun arai telah menghilang entah kemana
"ada apa luna?"tanya papa lalu menghampiri luna
"arai nakal,,arai narik rambut luna,,,"kata luna melapor ,,
papa mengenggok sekeliling'nya,, "tidak ada siapa-siapa ,,
udah luna kamu jangan mengadu yang tidak-tidak"

luna menoleh belakang,,dia melihat arai bersembunyh di balik mobil,,
"itu arai"tunjuk luna ,,
namun saat papa menoleh arai hilang entah kemana,,
"tidakk ada luna"kata papa menatap luna tajam krana sudah mengadu tentang arai yang bukan-bukan,
"luna ingin pulang...."teriak luna dengan keras
"papa hanya sebentar"
"gak mau,,"
"luna kita hanya sebentar,,
ayolah luna..
Habis ini papa janji kita jalan-jalan,,"bujuk papa,
luna pun diam,
ada gazebo d taman belakang ,
luna pun duduk sendirian bersama boneka barbie,,
luna hanya nurut saja,setidak'nya habis ini papa janji mengajak luna jalan,,
tiba-tiba saat asyik bermain sendiri ,sosok si jaik muncul di depan'nya dengan wajah di hias'i senyum licik dan menang,,,

luna cuek saja tpi tiba-tiba arai melepaskan kepala boneka'nya,..
Kontan saja luna shock dan berniat menangis melihat nasib boneka'nya,
belum sempat luna menangis eh,malah arai dulu yang menangis...seolah-olah luna yang salah,,,
papa luna dan papa arai langsung berlari ke gazebo,,
"ada apa nie?"tanya papa luna yang lebih mencemaskan arai,,
"arai kamu kenapa?"tanya papa arai jauh lebih cemas dari papa luna yang melihat anak'nya mengeru-gerung,,
"luna jahat,,,arai gak di ajak main... Lihat ini boneka'nya di rusak'in luna biar arai gak ikut main,,"lapor arai terisak....luna melotot dan menatap tajam,.,
"luna kamu itu ya kok nakal"tegur papa luna sambil melotot marah,,
"papa bukan luna,,
tapi arai"tunjuk luna protes, tangis arai pun semakin keras,,
"bukan luna pa,,"kata luna terus protes tapi percuma ... Papa lebih membela arai,,
"sudah sudah nak,diamlah"bujuk papa arai,,
arai tetap menangis,,
"begini saja... Papa akan belikan boneka barbie 1 toko untuk kamu semua,.."kata papa arai,,
arai langsung diam,,
luna tersenyum senang dan mengejek,,
bukan apa apa ,lucu saja dengar anak laki-laki d belikan boneka barbie,,,tapi benar,malam itu juga papa membelikan boneka barbie lengkap dengan teman,mobil dan rumah-rumahan,nya segala,,,semua d taruh di kamar arai,


luna tersenyum mengingat itu semua,,
arai bisa d kalahkan oleh luna dan itu ulah arai sendiri,..
"luna ,,
ibu liat melamun dan senyum-senyum "kata ibu dinita,,ibu luna
"

Rabu, 27 Juli 2011

::LunAriel:The Alexandria Chapter 11 & 12:: oleh Ritha H. Boriels

 ~Chapter 11~
Ketika cinta itu datang dan menghapus kesedihan dan memberi kita nafas yang baru. Betapa bahagianya kita mendapatkan itu semua. Tapi haruskah kebahagiaan yang baru itu menjadi sebuah dilema ketika dia sang masalalu datang kembali dan membawa cinta yang dinantikannya selama ini.

Malam itu, hujan masih terus mengguyur kota, Bryan yang saat itu mulai sadar dari rasa sakit dikepalanya, perlahan-lahan ingatan dimasalalunya datang satu persatu bagaikan puzzle yang mesti disusun kembali agar terlihar sempurna. Bryan terus berusaha mengingat kembali masalalunya. Tak peduli dokter berkata bahwa ini akan membahayakan dirinya.
“Lunaaaaa!!!!!”teriak Bryan saat ia baru sadar dari pingsannya. Butiran-butiran keringat itu terlihat sangat jelas, peluh keringat membasahi tubuhnya. Kenapa aku memanggil Luna, apa hubunganku dengan masalaluku? Ya tuhan! Apakah karena kalung itu? Karena sebelum aku mengalami rasa sakit ini aku memikirkan kalung itu. Apakah aku ini ariel?’batinnya.

Sementara Luna masih terdiam saat Nazril menyentuhnya, sesaat tadi luna sempat menolak saat nazril masih menyentuhnya. Tapi demi apapun hati kecilnya membiarkan nazril melakukannya.
“aku mencintaimu Luna”ucap nazril sambil memeluk luna erat-erat. Luna masih terdiam tak menjawab pertanyaan Nazril. Luna hanya memejamkan matanya, menyakini apa yang sedang ia rasakan saat ini. Inikah yang Luna inginkan? Apakah perasaannya sama dengan apa yang nazril lakukan?.
“luna, apa kau tak mendengarku? Heum.. rasanya memang aneh aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Tapi entah sejak kapan rasa itu ada, saat ini dan sampai kapanpun aku akan menjagamu dan menjadi suami yang baik.”ucap nazril menatap lekat gadis dihadapannya ini. Luna malah meneteskan air matanya. tangannya merasa panas, jantungnya berdetak sangat kencang seperti drum yang sedang dipukul-pukul. Luna kemudian memberanikan menatap lekat-lekat laki-laki dihadapannya yang kini telah menjadi suaminya. Apakah aku mencintainya? Apakah laki-laki ini yang tuhan takdirkan menjadi pandampingku?batinnya. nazril tersenyum dan menghapus airmata luna yang masih mengalir sama seperti diluar sana hujan masih tetap mengguyur kota.
“nazril!!”ucap Luna. Nazril tersenyum dan menggenggam tangan Luna “apa yang mau kau katakana luna?”tanyanya sambil terus menatap luna lekat-lekat.
“aku juga mencintaimu, entah sejak kapan perasaan ini. Tapi jika ada kamu semuanya terasa lebih mudah,”ucap luna lalu berhambur kepelukan nazril. Nazril menyambutnya dan membelai rambut luna yang tergerai.
“aku tahu kau akan mengatakan ini, kalau tidak? Mana mungkin kau diam saja saat aku menciummu”goda nazril diselingi tawa.
“nazrill!!!”ucap luna sambil memukul bahu suaminya itu. Malam ini kita biarkan jadi malam milik mereka.

********

“Bryan? Kau sudah bangun? Sejak kapan?”Tanya Claudya yang pagi itu tengah menjenguk Bryan sambil membawakannya sarapan..
“entahlah, gw rasa semalaman ini perasaan gw gak tenang claud. Dan sekarang satu persatu ingatan di masalalu itu sudah mulai gw ingat.”ucap Bryan memandangi kearah jendela kamarnya. “syukurlah kalau kau sudah ingat, berarti kau akan kembali ke masalalumu dan mungkin kau akan menemukan siapa yang selama ini membuatmu ingin terus mengingat masalalumu,”ucap claudya dengan raut wajah sedih.
“terimakasih Claudya.”ucap Bryan tersenyum. Senang rasanya melihat Bryan tersenyum dan entah kenapa perasaan ketika mengenal maxime dulu kini terjadi pada Bryan. Itulah perasaan claudya saat ini. Namun rasanya memang sangat berbeda. Jika dulu maxime menyambutnya dan memberikan cintanya pada claudya. Tapi berbeda dengan Bryan. Bryan menatap claudya hanya sebagai sahabat, cinta itu cinta kepada seorang sahabat. Sesak rasanya dan inikah yang dinamakan patah hati?

Pagi ini saat Luna terbangun nazril sudah tak berada disampingnya. Dan wangi makanan sudah tercium. Dan luna tahu wangi masakan ini adalah wangi masakan yang selalu ia rindukan ketika dirumah ibunya. Tapi siapa yang membuat makanan itu? bibi kan tak mungkin mengetahuinya? Dengan segera luna lekas bangun dan menuju ke arah wangi makanan itu. saat luna melihat bibik berada diteras belakang sedang menyiram tanaman luna menghampirinya.
“bik? Kok ada disini, kalau begitu siapa yang masak?”Tanya Luna heran. “den nazril yang masak non,”ucap bibik sambil tertunduk, karena takut kena marah. “nazril? Oh ya udah, makasih ya bik. Lanjutin aja nyiramnya”ucap Luna sambil tersenyum. Bibikpun akhirnya bisa bernafas dengan lega karena awalnya takut kalau Luna akan marah.

“nazril?”panggil Luna. Nazril menghiraukan panggilan luna, ia malah sibuk mengaduk-ngaduk isi wajan dengan lihai bak seorang koki. Dengan sekejap luna langsung kesal, luna lantas pasang muka cemberut. “dasarr ya nazril, cowok ini memang menyebalkan sekali”gerutu luna dengan kesal lalu kembali menuju kamarnya. Sesaat nazril berbalik dan tersenyum melihat tingkah luna.


*Kreeekkk….. pintu kamar terbuka, saat itu luna tengah merapihkan buku-buku yang akan ia bawa ke rumah kirana. Luna tak menoleh saat tahu yang datang itu nazril, walaupun luna sebenarnya sangat ingin menoleh karena wangi makanan kesukaannya semakin dekat.
“heumm.. jadi istriku ini masih ngambek saat aku cuekin tadi?”goda nazril sambil menaruh nasi goreng special buatannya. Kali ini luna yang menghiraukan nazril, luna masih memasang wahah bete. Saat itu nazril menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
“ayolah luna, kau jangan begini padaku?”ucap nazril dengan sedikit diselingi tawa. Wangi tubuh nazril menenangkan Luna. Dengan hanya mencium wangi tubuh nazril saja, aku sudah gak bisa marah padamu nazril’batin luna. Nazril memutarkan tubuh luna, sehingga mereka kini berhadapan.
“masih marah padaku?”nazril menyipitkan matanya. luna menggeleng dan terus menunduk. Nazril mengangkat dagu luna supaya gadis itu tak menunduk lagi.
“lantas kenapa kau masih cemberut?”Tanya nazril. “kenapa kau tadi tak menjawab panggilanku? Dan sejak kapan kau bisa masak?”Tanya luna. Nazril hanya tertawa dan menatap lekat-lekat gadis dihadapannya ini.
“luna.. luna.. aku tadi memang sengaja menghiraukanmu, karena aku sedang memasak makanan kesukaanmu. Ini sebagai hadiah karena kau memberikan malam terindah untukku.”jelas nazril serius.
“Oooo…”mulut luna membulat. “jadi hanya Ooo saja?”gumam nazril.
“memangnya kau mau apa dariku?”Tanya luna masih tetap masang wajah cemberut.
“tidak apa-apa, ayo sarapan dulu. Setelah itu kuantar kamu kerumah kirana”ucap nazril sambil mengacak-ngacak rambut luna. Saat nazril berbalik dan melangkah pergi luna baru tersenyum dan betapa ia bahagia menjalanai kehidupannya sekarang.
“nazril berhenti!!”teriak luna. Dengan segera nazril menghentikan langkahnya. Luna berhambur kepelukan nazril dan berbisik “terimakasih nazril,”ucapnya. Nazril hanya tersenyum dan iapun merasakan perasaan yang amat sangat senang.


“jadi bagaimana kirana? Apa kau mau menerimaku?”pinta uki yang saat itu mengutarakan perasaannya. Kirana tak menyangka uki akan secepat ini mengutarakan perasaannya.

“sejak kapan ki, lo punya perasaan sama gw?”Tanya kirana. “entahlah, yang jelas saat sama lo gw merasa ada sesuatu yang ngebuat gw gak bisa jauh dari lo. Mungkin ini takdir gw bisa bersama lo.”ucap uki mantap. Kirana tersenyum, karena sesungguhnya iapun mencintai laki-laki yang kini berada di hadapan dirinya dan tengah mengutarakan isi hatinya.
“jadi apa jawaban lo ran? Kalo lo terima gw lo ambil boneka ini, tapi kalau lo gak mau lo ambil bunga ini.”ucap uki was-was. Kirana tersenyum, sesaat ia memejamkan matanya dan menyakini perasaan yang ia rasakan saat ini.
“gw tahu jawaban gw sekarang.”ucap kirana tersenyum. Kirana lalu mulai mengambil bunga ini dan itu membuat uki lemas seketika. Jadi lo nolak cinta gw?’batin uki. “baiklah, walaupun lo nolak gw kita akan tetep jadi sahabat kan ran?”ucap uki memendam kesedihannya.
“nolak? Siapa yang nolak lo uki?”ucap kirana. “maksud lo?”Tanya uki benar-benar tak mengerti. “bunga ini bikin gw alergi uki, jadi gw ambil bunga ini mau gw buang bunga ini.”ucap kirana tersenyum.
“jadi lo nerima gw?”Tanya uki senang. Kirana terdiam dan kemudian mengambil boneka dolphin berwarna biru itu. “tak ada alasan buat gw nolak lo”ucap kirana sambil memeluk boneka dolphin pemberian uki. Refleks uki memeluk kirana dan mengajaknya berputar-putar.
“makasih ya kiran, lo udah nerima gw”ucap uki senang sambil menciumi rambut kirana. Kiranapun tersenyum. Ternyata ini saatnya ia mempunyai belahan jiwanya.


Nazril sudah tiba dirumah kirana, hari ini luna akan menghabiskan waktunya bersama sahabat tersayangnya itu.
“zril, itu uki kan?”Tanya luna saat melihat uki memeluk kirana. “uki? Tumben pagi-pagi gini udah keluyuran,biasanya dia masih tidur”ucap nazril polos.
“nazril…!!!’teriak luna. Nazril hanya tersenyum sambil keluar dari mobil Honda CR-V hitamnya. Nazril membukakan pintu mobil untuk luna.
“makasih,”ucap luna sambil malu-malu.
“iya sama-sama, aku berangkat dulu ya! Kamu hati-hati.”ucap nazril lalu mengecup pipi luna. Luna memandangi mobil suaminya pergi sampai benar-benar menghilang dari pandangannya. Baru ia memasuki halaman rumah kirana.


“Pagi Pak..”sapa claudya yang saat itu melihat nazril baru saja datang.
“claudya? Bagaimana keadaan Bryan?”Tanya nazril.
“dia sudah sadar, mungkin malam ini Bryan sudah bisa pulang dari rumah sakit.”ucap Claudya.
“ok! Sore ini gw dan luna akan jenguk dia,”ucap nazril sambil bergegas menuju ruangannya.

“Lunaaaa…!!!”teriak kirana memeluk sahabatnya itu. luna ikut tersenyum dan membalas pelukan kirana.
“tubuhku bau Uki. Hehehe”goda Luna.
“tubuh lo juga bau nazril, hahaha…”kirana tertawa. Lunapun ikut tertawa.
“selamat ya ki, lo akhirnya menemukan cinta sejati lo”ucap luna mengulurkan tangan.
“thanks lun, lo kapan sama nazril mengalami masa kayak gw dan kirana. Saling mencintai”ucap uki luna hanya tersenyum.
“uki..!!! udah sana, katanya mau berangkat kerja”gumam kirana. “iya sayang.”ucap uki. Saat itu luna menutup matanya dengan tangannya.
“gw gak akan lihat apa yang kalian lakukan ok!”ucap luna nyengir.
“huuu…!!!”ucap uki dan kirana secara bersamaan. Mereka bertiga pun akhirnya tertawa sebelum uki benar-benar pergi.

 ~Chapter 12~

Siang itu, Bryan masih tampak masih bingung dengan kepingan-kepingan dimasalalunya yang perlahan-lahan diingatnya. Walaupun ingatan itu belum terlalu jelas. Tapi ia ingat kalau hal paling penting yang selalu ingin ia iangat adalah Luna. Cinta dimasa kecilnya dan sekarang ia sudah menemukan cinta itu.
“lo udah sadar?”Tanya maxime saat memasuki kamar Bryan. Bryan hanya terdiam.
“gw mulai ingat semuanya max, dan kalung yang lo pakai itu milik gw!!”ucap Bryan dingin. Maxime terkejut. Bukan karena ingatannya Bryan sudah kembali. Tapi karena sikap Bryan terlihat sangat dingin pada Maxime. Bahkan Makanan yang dibawa CLaudya pun tak sempat ia sentuh.
“oh kalung ini? Jadi ini kalung lo? Ini gw kembalikan kalung lo”maxime memberikan kalung yang bertuliskan nama Luna ini.
“kapan gw boleh keluar dari sini?”Tanya Bryan.
“malam ini. Jadi sikap lo yang asli kayak begini?”Tanya maxime saat memberikan kalung milik Bryan.
“sikap gw? Gw hanya sedang memikirkan apa gw udah terlambat?”Tanya Bryan memandang maxime.
“terlambat? Gw rasa lo belum terlambat sama sekali, kalau yang lo maksud mengerjar cinta gadis pemilik kalung itu”.
“kenapa lo bisa bilang begitu?”Tanya Bryan.
“kalau gadis yang lo maksud adalah luna istri nazril, lo bisa rebut dia darinya. Lo sendiri tahu mereka menikah bukan karena keinginan mereka.”ucap maxime. Bryan tersenyum, terbesit sesuatu dipikirannya.


“jam berapa sekarang kiran?”Tanya Luna saat menutup buku pelajarannya. “heumm.. jam 12 tepat, memangnya kenapa? Jam pulang nazril kan masih lama lun”.
“mau kasih spaghetti buat nazril.”ucap luna sambil bergegas pergi lalu berpamitan pada kirana. Kirana dibuat diam dengan aksi sahabatnya itu. ada apa dengan luna? Kenapa dia jadi peduli terhadap nazril?


Luna tengah berjalan sambil menenteng spaghetti yang baru saja ia beli. Namun angina menerbangkan rambutnya hingga menutupi wajahnya. Dan ini membuat Luna tak bisa melihat jalan dengan baik.
*tttiiiiittttttt…. Suara klakson motor mengagetkan luna, untung saja luna bergerak cepat sehingga ia tak tertabrak.
“maaf pak,”ucap Luna.
“jalannya hati-hati neng,”ucap pengemudi motor itu, luna mengangguk sambil tersenyum. Saat luna hendak jalan ia manginjak sesuatu.
“kalung?”gumamnya. ternyata Luna menginjak kalung yang terjatuh dari lehernya. Sejak kapan kalung ini terjatuh dari leherku? Pertanda apakah ini? Apakah aku memang sudah seharusnya tak memakai kalung ini?’batinnya. luna lantas memasukan kalung bertuliskan ariel itu kedalam tasnya. Entah sejak kapan rasanya untuk ariel telah memudar.

“nazril!!!”ucap luna saat masuk keruangan nazril.
“luna? Ada apa?”Tanya nazril. Luna hanya tersenyum dan menunjukkan sekotak spaghetti yang ia bawa. Nazril membiarkan luna duduk dikursinya sementara nazril duduk dimeja.
“jadi, sekarang kau tak kapok membawa makanan untukku?”Tanya nazril sambil memainkan rambut panjang luna yang tergerai.
“sekarang kau kan bersikap manis padaku”ucap luna sambil membuka kotak spaghetiinya.”jawab luna nyengir. Nazril mengamati luna, sepertinya ada yang kurang dalam diri istrinya itu.
“kalungmu mana? Tak kau pakai?”Tanya nazril santai. “haruskah aku memakainya?”Tanya luna polos sambil mengambil menggulung-gulung spaghetti digarpu.
“kalau kau mau memakainya pakai sajjj….” Belum sempat nazril menyelesaikan kalimatnya, luna sudah menutup mulut nazril dengan spaghetti.
“tak usah bahas itu, ayo makan.”ucap luna. Dalam hati nazril tersenyum melihat luna bertingkah seperti itu.
“sini giliranku menyuapimu”ucap nazril. “bagaimana kau mau menyuapiku? Daritadi tanganmu memainkan rambutku.”ucap luna cuek. Nazril hanya nyengir saat luna berbicara seperti itu.
“sore ini kita jenguk Bryan. Dia sudah sadar”ucap nazril.
“benarkah? Syukur kalau begitu.”ucap luna. Sejenak mereka berhenti mengobrol, membiarkan spaghetti ini habis dimakannya.
*******

Sore itu nazril dan luna bergegas menuju rumah sakit untuk menjenguk nazril. Lagi-lagi hujan mengguyur kota. Bedanya hujan ini datang disore hari, padahal baru saja langit terlihat cerah. Tapi sedetik saja berubah menjadi gelap.
“hujan Lagi!!”ucap luna cembeurt. “kenapa? Sebenarnya kau tak suka hujan kan Luna?”Tanya nazril. Dengan cepat luna mengangguk.
“kau tahu zril, langit jadi tak begitu indah”ucap luna cemberut. Nazril mengelus rambut luna. “biarkan hujan membasahi kota luna,”ucapnya. Luna tersenyum dan saat itu perasaannya sangat tenang.
“maxime?”sapa nazril yang saat itu melihat maxime tengah duduk diruang tunggu.
“luna, nazril?”.
“bagaimana Bryan?”Tanya Naxzril. Maxime tersenyum, saat itu ia teringat ucapan maxime tadi siang.
“max, kalau lo benar-benar ingin nebus kesalahan lo terhadap gw. Bantu gw supaya bisa berdua sama luna. Caranya lo atur sendiri.”

“maxime!!”panggil nazril.
“yeahh. Keadaannya baik-baik saja, naz! Gw perlu bicara sama lo. Tapi gak disini, gak apa-apa kan luna?”Tanya maxime menoleh pada luna.
“oke! Kalau gitu gw tunggu didalam.”ucap luna. “kamu tunggu sebentar ya lun,”ucap nazril sambil mengecup pipi luna. Maxime dibuat heran dengan aksi nazril. Sejak kapan luna dan nazril jadi mesra begitu.

“Bryan!!”panggil luna saat luna membuka pintu kamar. Saat itu Bryan tengah berdiri menghadap jendela kamar.
“lo udah sehat? Kok lo berdiri disitu?”Tanya luna. Bryan berbalik dan menatap luna penuh arti, mengamati luna dengan seksama. Tapi satu hal yang membuat alisnya mengkerut. Bryan tak menemukan kalung yang dipakai luna.

Sementara nazril….
“kenapa max?”Tanya nazril. “sejak kapan lo mencintai luna?”. Nazril mengerutkan alisnya, ia tak mengerti dengan perkataan maxime.
“bukan urusan lo, lo kenapa manggil gw?”. Tanpa pikir panjang menceritakan semuanya, maxime tak mau berbohong sedikitpun. Alasannya membawa nazril kemari supaya bryan bisa lebih leluasa berbicara dengan luna. Nazril menanggapi perkataan maxime dengan tenang. Walaupun emosinya saat itu ingin meledak.

“Luna!!!”ucap Bryan menghampiri Luna. Luna dibuat terdiam dengan aksi Bryan. Terlebih saat itu luna melihat kalung bertuliskan namanya digenggam Bryan.
“Ariel??”ucap Luna gemetar. Bryan tersenyum dan memeluk Luna erat-erat.
“ya luna, ini aku ariel. Aku arielmu luna!!”ucap bryan terus memeluk luna. Luna terkulai lemas. Kakinya tak sanggup menopang tubuhnya lagi. Perlahan airmatanya mulai jatuh.
“luna!! Ini aku, sekarang aku ingat semuanya. Aku arielmu luna. Aku ariel!!”ucap Bryan. Saat itu nazril sudah berdiri didepan pintu. Hatinya sesak, gundah. Akankah ia kehilangan luna disaat ia benar-benar mencintainya. Saat nazril hendak pergi, pemandangan itu membuatnya enggan melangkah. Tiba-tiba Luna mendorong tubuh Bryan.
“luna kau kenapa?”Tanya Bryan. Luna berbalik dan sekarang dihadapannya berdiri nazril. Hati luna terasa sesak. 2 pria kini berdiri di dekatnya. Masalalu dan Masa depannya!! Luna berlari tanpa menoleh kearah Bryan begitupun pada Nazril.
“Luna!!!!!panggil Bryan yang hendak mengejar Luna. Namun nazril menahannya “biar gw yang temui luna, gw yang lebih berhak”ucap nazril mematahkan Bryan untuk mengejar Luna.

Diluar hujan cukup deras, Luna tak peduli. Ia ingin menjauh dari semuanya. Luna tak sanggup menghadapi kenyataan kalau Bryan adalah Ariel. Hati kecilnya menolak Bryan kalau dia ariel. Tapi pikirannya terus tertuju pada kenangan-kenangan dimasalalu. Luna terkulai lemas, ia sudah lelah berlari. Ia biarkan hujan membasahi tubuhnya. Satu persatu bayangan nazril dan Ariel silih berganti memenuhi pikirannya.
“Lunaa!!!”teriak sebuah suara. Yang luna yakini itu suara nazril. Luna bangkit dan berbalik memandang nazril.
“kenapa lari?”Tanya nazril.
“zril. Kamu mau marah sama aku? Kamu marah aja sekarang! Ayo marah!”teriak luna.  “luna, kau bicara apa sih?”.
“nazril!!! Kenapa kau tak marah tadii!! Apa kau tak sayang padaku?”ucap Luna sedikit berteriak. Nazril tersenyum dan memeluk Luna. Ia menenangkan gadisnya ini ditengah guyuran Hujan.
“menangislah luna, jika kau ingin menangis.”ucapnya.
“nazril….!!!” Luna memeluk Nazril erat-erat. Pemandangan itu disaksikan oleh maxime. Dan maxime baru menyadari kalau perbuatannya tadi salah.
~To Be Continued~

Rabu, 20 Juli 2011

Jika Ariel Bicara

Jakarta -
Awalnya, Ani hanya bisa tersenyum malu-malu. Ia berdiri tidak terlalu jauh dari ruang tunggu tahanan Pengadilan Negeri Bandung Jalan R.E Martadinata, Bandung. Dari tempatnya berdiri, Ani bisa memandang Nazril Irham alias Ariel di balik jeruji. Senin, 6 Desember 2010, pegawai restoran makanan cepat saji di kawasan Riau ini ingin bertemu pujaannya. “Saya nge-fans dari dulu,” kata perempuan muda berambut agak pirang ini.

Bersama tiga orang rekannya, mereka sengaja datang. Ani sambil tersipu-sipu mendekat menuju jeruji. Wajahnya agak pucat, tangannya mendekap jaket warna ungu yang ia pakai. Ani mulai rikuh dan sibuk. “Mana kamera? Kok nggak bawa?” tanyanya pada sang teman. Wartawan mulai tertarik dengan sosoknya. “Panggil saja Arielnya,” salah seorang wartawan memberi saran. “Saya nggak mau, nanti masuk tivi,” katanya, centil.

Seseorang lalu berteriak pada Ariel. “Riel, ini ada fans-nya datang, lagi hamil,” lantang. Aga Khan, pengacara Ariel, mendekat. “Mana, ayo sini. Kamu bisa masuk ke dalam,” ajak Aga Khan pada Ani.
Ani sumringah, tapi ia menolak. “Nggak mau,” katanya. Ia memilih mendekat, meng-ulurkan tangannya pada vokalis Peterpan itu dari luar jeruji. “Riel, hadapi dengan senyuman ya. Ariel semoga cepat keluar [tahanan] ya,” katanya dengan suara besar. Ariel tersenyum dan mengucapkan terima kasih. “Jangan sedih,” tambah Ani. Ucapan ini malah membuat Ani terlihat sedih. “Tuh kan, saya jadi sedih,” ujarnya berkaca-kaca.

Perbincangan singkat antara pengemar dan sang bintang berakhir. Tapi wartawan mengajukan permintaan pada Ariel. “Riel, dia minta dielus perutnya, kasihan lagi hamil,” seru salah seorang wartawan televisi. Ani hanya bisa menahan gembira saat tangan Ariel mengelus pelan perutnya. ”Saya hamil mau tiga bulan,” kata Ani sumringah.
Terjadi menjelang sidang ketiga dengan agenda putusan sela, Ariel tergambar seperti biasa: saat tertawa kedua matanya menyipit tajam, tertawa tapi tak terasa lepas, namun tetap berusaha terlihat santai. Sesekali ia larut serius berbincang dengan tim pengacaranya.

Datang pukul setengah delapan pagi, Ariel harus menunggu sidang yang digelar sete-ngah 10 pagi. Ia merutuk jadwal yang molor. ”Ini semua berlebihan, menunggu sidang saja lama kayak begini,” keluhnya. Hari itu, ia mengenakan kemeja putih motif garis-garis dan celana warna hitam.

Ada yang lain didapat para wartawan dari Ariel. Berbeda ketika ia berada di tahanan Mabes Polri, kekasih Luna Maya ini begitu sulit ditemui media. Ketika tahanannya dipindah ke LP Kebon Waru, Jalan Jakarta Bandung, dan menjalani sidang perdana, pelan-pelan Ariel mau bicara.

Di sela-sela menunggu sidang, ia menyempatkan untuk menyapa penggemar seperti Ani dan meladeni pertanyaan para wartawan. Tak hanya itu, sayup-sayup dari luar pagar pengadilan puluhan massa yang meneriakkan agar Ariel dihukum berat pun tak pernah absen mengikuti sidang.

Ariel juga mendengar soal mereka yang kontra ini, ”Ada yang teriak hukuman 12 tahun buat saya itu kecil. Harusnya hukuman mati, waduh, bagaimana caranya? He he,” ujarnya. Agenda putusan sela hari itu akan menentukan nasib kasusnya. Apakah perkara hukum ini terus dilanjutkan atau ia akan beroleh bebas.

Saat masih menunggu, Ivana, kakaknya, datang berkunjung mengantarkan makanan. Memberi pelukan, berbincang sebentar lalu keluar.� Tak berselang lama, dua personel band eks-Peterpan, David dan Uki, datang. Terlibat obrolan sejenak, Uki lantas meladeni para penggemar yang berjejal di balik jeruji.

Ariel terlihat tekun mendengarkan lagu dari iPod yang dibawa David. ”Itu bukan materi baru. Materi lama yang rencananya mau dirilis, tapi sebenarnya bukan rahasia, lagi tunggu prosesnya selesai,” kata Ariel pada saya.� Tak lama, panggilan untuk bersidang datang. Pukul sembilan lewat, frontman berusia 29 tahun ini melangkah menuju ruang sidang utama di lantai dua.

Secara maraton, Majelis Hakim Singgih Budi Prakoso yang memimpin sidang mengawali dengan pembacaan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) oleh dua hakim anggota Agus Suwardi dan Syahril Mahmud. Berbeda dengan dua sidang sebe-lumnya, jalannya sidang berlangsung terbuka. Penggemar Ariel, wartawan, anggota Laskar Pembela Islam, para anggota sebuah organisasi kepemudaan (OKP) berbaur di dalam ruangan.

Dalam dakwaan, Ariel dituntut dengan sejumlah pasal berlapis. Pasal 29 UU no. 4 tahun 2008 tentang pornografi jo pasal 56 ke-2 KUHP. Pasal 27 ayat 1 UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) jo pasal 45 ayat 1 UU ITE terakhir Pasal 282 ayat 1 KUHP. “Maksimal hukumannya 12 tahun,” kata Rusmanto salah seorang JPU.

Ariel dan tim pengacaranya pada sidang perdana 22 November lalu sudah mengajukan nota keberatan alias eksepsi. Namun dalam putusan sela, majelis hakim menolak karena materi eksepsi di luar ranah eksepsi. Singgih Budi Prakoso meminta proses persidangan dilanjutkan dengan agenda memanggil saksi-saksi.

Kekecewaan tergurat di wajah Ariel usai sidang. “Terus terang aku kecewa eksepsi ditolak,” keluhnya pada saya. “Kami akan terus melakukan perlawanan hukum,” kata Aga Khan, pengacara Ariel.
Jika semua berjalan normal, kemungkinan besar bulan-bulan ini Ariel bersama anggota band baru eks-Peterpan yang lain tengah giat-giatnya melakukan promo tour. Juni lalu, mereka pun sudah merampungkan syuting videoklip single album mereka. Video yang menarik. Di dalamnya memperlihatkan sosok Ariel yang seperti memiliki dua kepribadian: Lelaki tampan tengah berkaca pada sosok bengis di dalam cermin. Ada juga perempuan yang dirundung sedih sepanjang video. Khas video-video Peterpan.

Klip beres lalu masuk televisi. Single diputar di radio. “Sebulan kemudian launching,” kata Ariel. Bum! Dua video yang diduga berisi Ariel-Luna Maya dan Ariel-Cut Tary muncul ke permukaan. Menghancurkan semua rencana yang sudah disusun. Album tertunda, jadwal manggung banyak dibatalkan. ”Ada satu acara besar di Singapura dibatalkan. Nama acaranya Asian Giant. Peterpan main dengan Rivermaya,” kata Ariel.

Kasus ini mengguncang negeri. Membelah masyarakat pada dua kutub besar: prihatin pada nasib sang rockstar sedangkan yang lain berteriak keras minta Ariel dihukum berat. Ariel kembali menjadi buruan media. Rumahnya di bilangan Antapani, Bandung, tak henti-hentinya disantroni kuli tinta.

Kedatangannya pertama kali ke Bareskrim Mabes Polri menjadi pemandangan agak memilukan: seorang lelaki yang biasa dielu-elukan hari itu berkemeja hijau motif kotak-kotak terlihat ringkih memegang ta-ngan sang kekasih. Lampu kamera yang terang memperlihatkan beban besar di matanya yang menyempit.

Kasus ini menyisihkan—membuat orang lupa sementara, pada banyak kasus besar yang tengah terjadi di Indonesia. Misal, kasus korupsi milyaran rupiah pegawai pajak Gayus Tambunan, mafia kasus di Mabes Polri. Media, percakapan jejaring sosial, forum dunia maya membahas berbagai konspirasi, juga jokes tentang ketiga orang yang dirundung malang tesebut.

Di sisi lain, entah berapa orang yang ramai-ramai mengunduh video-video tersebut di dunia maya. Diam-diam, tanpa sorot kamera, ia menyerahkan diri secara sukarela pada polisi setelah video porno kedua yang diduga Ariel dan Cut Tari keluar. Tanpa melalui proses yang transparan polisi kemudian menetapkan Ariel sebagai tersangka.

“Saya dibilang ikut mengedarkan video, bagaimana mungkin? Saya ini hanya korban,” kata Ariel. Menurutnya, sampai saat ini tidak ada satupun barang bukti miliknya yang disita polisi. “Orang yang jelas-jelas mengedarkan video itu sendiri sampai sekarang nggak terekspos,” katanya. Ia menyebut Anggit Gagah Pratama dan nama-nama lain yang mengunggah. “Tidak ada media yang mempersoalkan si Anggit dan para penyebar ini,” ujarnya.

Redjoy alias RJ tersangka penyebaran video sendiri membantah dirinya menyebarkan video tersebut. Ia mengaku meng-copy paste isi harddisk eksternal milik Ariel tahun 2006 lalu di studio Capung, Antapani, Bandung. Saat itu seingatnya, Ariel menyerahkan materi album Hari Yang Cerah. Harddisk eksternal 160 GB itu memuat beberapa folder lagu.

“Biasanya nama folder adalah nickname Ariel,” kata Redjoy. Ia menyortir sejumlah folder, yang di dalam salah satunya terdapat dua video itu. “Kaget, pas tahu ada video itu. Nggak diapa-apakan, cuma ter-copy di harddisk CPU komputer studio,” ujarnya. Redjoy sendiri bekerja sama dengan Peterpan sejak album Alexandria (2005).

Sebagai editor musik, tugasnya adalah merapikan bagian-bagian dalam sebuah lagu. “Satu lagu biasanya beres dalam tiga hari,” ujarnya. Mengedit album Peterpan baginya adalah tantangan, termasuk album baru yang akan keluar nanti. “Saya masih terlibat, musiknya sekarang lebih njlimet. Pemilihan sound-nya sulit,” ujarnya.
Menurutnya, kemajuan Peterpan jauh lebih meningkat dibanding sebelumnya. “Masuknya David juga jadi nilai tambah. Orangnya bermain dengan teori yang kuat,” kata lelaki bercambang ini saat saya temui ketika menunggu sidang.

Kembali ke video. Setelah mendapat video tersebut, Redjoy mengaku tidak memberi tahu anggota Peterpan yang lain. “Di Peterpan, yang paling dekat ya sama Ariel,” ujarnya. Setahunya, video tersebut terpecah-pecah menjadi beragam video. Ia langsung menghapusnya, meski tidak seketika. “Tapi di studio ada software khusus pencari data yang sudah dihapus supaya kembali lagi,” tuturnya. Aman.

Masalah datang ketika Anggit Gagah Pratama, sepupunya, datang berkunjung. “Dia biasa main ke studio,” katanya. Pada Redjoy, Anggit lebih sering membicarakan soal fotografi. Mahasiswa berambut gondrong ini kerap pula memainkan komputer studio. Mungkin di sanalah Anggit menemukan video-video tersebut. “Dia pamit pulang, tiis (cuek) saja nggak bilang soal video tersebut,” katanya.

Empat tahun berlalu. Juni 2010, video yang sudah dianggap mati dan tidak ada muncul di permukaan. ”Kaget banget, itu video yang pernah saya tonton. Tapi berpikirnya, mungkin ada orang lain yang punya,” katanya. Tapi telepon dari Anggit sebelum bulan puasa mengejutkannya. “Ia mengaku mengambil file itu. Tapi katanya video itu juga dicuri lagi sama temannya,” katanya.
Setelah telepon itu, “Saya sampai lima hari stress banget,” paparnya. Ia mulai menyiapkan diri nama terseret pusaran kasus ini. “Saya mulai bilang ke ibu, ke orang-orang dekat, kalau saya pasti akan dipanggil polisi,” katanya. Polisi datang ke rumahnya di bilangan Buah Batu. Redjoy dijemput tanpa paksaan.

Ia dititipkan di ruang tahanan Polres Jakarta Selatan. Di sana, ia bertemu dengan tiga orang anak muda yang ditangkap polisi karena menyebarkan video tersebut. ”Mereka teman-teman Anggit,” katanya. ”Mereka shock,” tambahnya. Sempat berdialog, dua orang rekan Anggit mengaku mendapatkan file itu dari flashdisk Anggit. ”Lalu tersebar di antara mereka,” katanya.
Mereka juga mengakui jika file-file yang terpecah-pecah itu mereka edit kembali supaya layak tonton dan bisa diunggah. ”Jadi bukan Anggit yang menyebarkan. Kabarnya yang menyebarkan ke internet ada teman keempat mereka, tapi saya tidak tahu siapa,” ujar editor yang pandai main gitar ini. Disinggung jika Anggit adalah putra dari pejabat kepolisian, Redjoy membantah. ”Bukan. Bapaknya kerja swasta,” katanya.

Menurutnya, ia ingin proses hukum ini menindak pihak-pihak yang tak bertanggung jawab itu. ”Yang mengedarkan harus diproses,” katanya. ”Saya tidak pernah meng-edarkannya,” katanya. Jika semua proses hukum ini sudah dijalani, ia mengaku, ”Saya ingin diterima lagi oleh anak-anak Peterpan,” paparnya. Kondisinya memang sulit, bahkan pengemar Peterpan saat ini membencinya.
”Ada yang berteman dekat dengan saya, sekarang malah balik membenci,” keluhnya.

Nasib sudah berkata lain. Kasusnya terus bergulir hingga pengadilan. Masa tahanannya terus diperpanjang hingga empat kali. Permohonan penangguhan penahanan yang diajukan pengacara tidak pernah terkabulkan. Hari-hari ke depan, nasib Ariel baru akan terjawab.

Dalam beberapa kesempatan di sela-sela menunggu persidangan, penyuka game online ini berbicara dengan saya tentang banyak hal. Pembicaraan tak leluasa tentu saja. Ariel berusaha menjawab seterbuka mungkin.
TENTANG ALBUM BARU

Sebetulnya, sudah berapa matang album baru kalian, sebelum terjadi proses hukum ini?

Itu lumayan, sudah hampir menetaslah.� Sudah 90 persen, malah 95 mungkin. Yang kurang, tinggal ada lirik di satu lagu, lagunya sudah selesai, liriknya tinggal dilengkapi. Video klip sudah jadi.

Berapa lama proses pembuatannya?
Sekitar dua tahun. Mengerjakannya selang-seling. Nggak terus-terusan.

Proses album ini tergolong lambat dibanding sebelumnya. Kenapa?
Kadang-kadang kita berkaca pada band luar, kenapa mereka bisa sesantai itu [mengerjakan album]. Mereka nggak kayak dipecut. Kalau di sini kan seperti kuda dipecut. Setahun sekali harus keluar album. Coldplay, lama [nggak keluar], sekalinya keluar bagus.� Nah, kita berharapnya juga seperti itu, tidak memaksakan mood. Mudah-mudahan, setiap keluar album itu hasilnya bagus.

Tidak ada hambatan teknis?
Nggak ada. Misalnya satu lagu, belum ketemu enaknya. Diamkan saja dulu. Tunggu, oh enaknya begini, baru [diselesaikan] begitu.

Ada berapa lagu rencananya?
Ada delapan sampai sembilan lagu. Kami inginnya setiap lagu dipromosikan. Kadang di tiap album ada sepuluh lagu, tapi ada dua lagu yang nggak kedengaran sama sekali.

Seperti apa kemajuannya dibanding album-album sebelumnya?� Apakah album ini cenderung lebih keras?
Kalau sudah keluar, orang bisa lihat sendiri progresnya. Terlalu abstrak. Tapi David, Uki dan Lukman banyak memasukan instrumen-instrumen baru. Nggak keras. Masih seperti album Peterpan yang dulu. Ada satu lagu yang keras, yang lainnya sama. Kalau musiknya, banyak perubahan.

Dari segi lirik, ada perubahan?
Lirik, ada satu lagu yang bicara tentang nasionalisme. Sisanya, hubungan cinta-cintaan. Secara musik, kita mulai memasukan instrumen tradisional Indonesia. Ada juga instrumen tradisional dari luar.

Lagu ciptaan David dipilih menjadi single pertama dan dibuatkan video klipnya.
Karena berbeda. [Bagian] depannya. Saat hearing, orang-orang bilang ini beda.

David termasuk anggota baru di dalam band,� kalian sudah berani mengakomodir?
Dia bagus. Punya potensi besar. Sayang kalau cuma jadi tukang keyboard acara kawinan. [tertawa]

Album ini digarap di mana?
Rekaman di studio Masterplan. Kalau konsep dan bikin lagu itu kebanyakan di rumah Uki.

Nama baru sudah siap? Betulkah perdebatannya seseru seperti yang ditayangkan televisi swasta itu?
Sebenarnya begini, reality show itu kan niatnya karena kita ingin santai. Untuk menjaga eksistensi, kita bikin acara itu. Memang jadinya tidak seperti yang kita bayangkan. Jatuhnya harusnya lebih bagus, lebih reality show (dalam tayangan itu ternyata mereka berakting kaku-Red). Yang kedua, adanya tayangan itu dengan tetap menjaga eksistensi tapi tidak mengganggu rekaman. Ternyata yang terjadi adalah rekaman terganggu. Salah perhitungan, jadi semakin lama.
Proses pencarian nama juga semakin lama, karena kita kebanyakan berpikir untuk acara itu tadi

Tapi kini soal nama sudah pasti?
Belum. Tetap menyisakan beberapa kandidat [nama]. Tetap nama barunya akan dikeluarkan pas launching album. Di sisi nama sendiri, kami tidak ada perdebatan. Kami benar-benar belum menemukan nama yang pas. Kebanyakan saat ada yang menyebutkan nama, bagus...bagus, tapi kok kurang ya?

Tersebar kabar namanya Masterplan?
Itu rumor, he-he-he.

Kapan album ini akan dirilis?
Pas beres bikin video klip, harusnya sebulan kemudian rilis. Syuting, klip jadi, begitu on air nya siap, masuk televisi, sebulan kemudian pasti launching. Tapi itu sudah lewat. [memandang lalu tersenyum]

Meski dirundung kasus, apakah album ini akan tetap keluar?
Kita awalnya kan yakin kasus ini nggak P.21 [berkas polisi dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan]. Yang lain bilang, ”Kita tunggu saja sampai maksimum tahanan polisi ini selesai 120 hari, habis itu kita launching.” Ternyata di luar dugaan, dinyatakan P.21. Sekarang lagi disusun beberapa rencana.

Mungkin tidak, jika album baru ini dirilis tanpa kehadiran Anda?
Bisa jadi. Tapi bentuk rilisnya kita belum tahu, apakah album atau single, semua masih dalam perdebatan.

Bagaimana Anda menyakinkan personel lain untuk tidak gelisah dengan eksistensi band selama menunggu proses hukum selesai?
Proses ini sangat memakan waktu. Saya nggak banyak meyakinkan mereka. Cuma kalau sekali ketemu, ada yang kita omongkan. Malah banyak ide yang saya kasih supaya mereka mengisi kekosongan. Tapi mereka nggak mau juga maju sendiri-sendiri. Paling sambil menunggu proses hukum, mereka mengerjakan proyek-proyek lain.
Itu tadi, pas awal-awal [kasus] bertahap ada rencana A, B, tanggung nih, begitu selesai masa tahanan. Ternyata... Sekarang sudah rencana keberapa, akibat kemahiwalan (kasus nyeleneh) ini. [tersenyum simpul]�

Betul ada rencana diproduseri Abdee Negara? Bikin single?
Bukan single, sebenarnya kami yang mau jadi produser. Saya, Abdee dan beberapa nama besar lain. Cuma nanti, karena prosesnya tertahan terus akibat beberapa hal. Ini proyek santai, jadi ditundanya lumayan lama.
MENJADI TAHANAN

Terkejut berhadapan dengan proses hukum?

Sangat terkejut. Saya waktu itu lagi siap-siap untuk album baru. Sering pulang pergi Jakarta-Bandung. Saat-saat itu, sebenarnya saya lagi banyak meluangkan waktu sendirian untuk menyelesaikan lirik.

Sangat terguncang?
Lumayan, seperti gempa Yogya...[tertawa]

Apa yang terlintas di pikiran saat pertama kali ditahan di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri?
Pikiran saya nggak di dalam waktu itu, masih di luar. Kenapa bisa begini? Terpikir, oh mungkin proses hukumnya harus seperti ini, ya saya jalani saja dulu.

Kabarnya sel Anda di Bareskrim berhadapan dengan Abu Bakar Basyir?
Oh, itu ceritanya begini. Awalnya, sel saya yang direbut oleh ustad Abu. Ha-ha-ha. Gue duluan di situ kan. Beberapa lama kemudian, Pak Ustad masuk dengan pengawalan ketat. Gue dipindah dulu, karena kamar itu akan jadi sel isolasi Ustad Abu. Sudah beberapa lama di situ, ada yang keluar. Gue pindah lagi, berhadap-hadapan dengan selnya.

Pernah ngobrol? Dia mengenal Anda?
Lucunya di situ. Saat istirahat, kami duduk di ruang tengah. Beliau lewat, nggak tahu apa pemicunya, kalau nggak salah, ada yang ngobrol dengan beliau. Lalu ustad bilang, “Maaf, saya kurang tahu ini siapa.” Yang lain bilang, “Ini Ariel, Pak”. “Oh, ini Ariel.”
Anehnya, dari bibirnya yang pertama kali keluar bukan seperti sosok yang menakutkan. Dia bilang, “Jangan berkecil hati”. Katanya, manusia diturunkan ke bumi untuk belajar, berbuat dosa. Tapi juga untuk menyadari dosanya dan mengubah dirinya. Nanti kalau manusia nggak bikin dosa lagi itu dimatikan semua. Jangan berkecil hati, yang penting tobat saja. Itu intinya.

Di Bareskrim banyak tahanan kasus kelas kakap, banyak hal baru didapat?
Ya, tapi kadang-kadang pusing karena obrolannya. Ada anggota DPR, ilegall logging, batubara. Pusing. Obrolannya terlalu pintar. [tertawa] Tapi seru banget di Bareskrim itu.

Saat pindah ke Kebon Waru, apakah jauh lebih nyaman dibanding di Bareskrim?
Kenyamanan bukan soal orangnya, tapi udara. Di sini lebih nyaman karena udaranya terbuka, ada sinar matahari. Di sana tertutup, AC, matahari nggak ada. Di satu titik saja baru ada tempias sinar matahari. (Ariel mengaku karena jarang tersentuh matahari, kulitnya menjadi lebih sensitif. ”Tapi di Waru sudah sehat lagi,” katanya.)
Di sisi orang, saya tidak butuh waktu beradaptasi. Saya kan lima tahun hidup di jalan, jadi nggak susah untuk beradaptasi.

Sampai detik ini sudah menerima kasus hukum yang menimpamu?
Nasib, saya terima. Tapi proses hukumnya nggak!

Kecewa dengan penegakan hukum di Indonesia?
Ya. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Kasus-kasus sejenis sebelumnya yang menyangkut para politisi kok nggak diusut?

Pendapat Anda soal kelompok tertentu yang terus menekan jalannya proses hukum ini?
Saya nggak bisa kasih pendapat ke mereka. Karena saya nggak tahu motif mereka apa.� Kalau memang murni, bagaimana juga? Soalnya saya ketemu sama ustad-ustad, nggak ada yang seekstrem itu. Semuanya dari belakang [menasihati], ”Kamu begini, kamu harus begitu”.

Anda dianggap merusak moral bangsa.
Saya tidak merasa merusak. Di sini, saya korban. Yang merusak adalah mereka yang mengupload, nggak berpikir kalau privasi orang sudah dilanggar. Mereka yang nggak memikirkan efek dari penyebaran itu, televisi yang menayangkan gambar itu lalu dilihat anak kecil, saya kira itu lebih merusak.
PERUBAHAN DAN RENCANA ARIEL

Proses hukum ini melelahkan. Apa yang menguatkan Anda?
Kehadiran keluarga, orang-orang dekat, Sahabat Peterpan juga. Pasti itu yang di dunianya. Selain diri sendiri, dikuatkan juga sama Yang Di Atas.

Seperti apa proses menguatkan diri itu?
Prosesnya panjang sekali. Terlalu panjang buat diceritakan. Yang pasti, banyak buku yang saya baca bagus-bagus, mengenai masalah. Saya juga baca biografi orang-orang besar, kasusnya berbeda tapi nasibnya sama.
Malah ada yang perlakuannya lebih parah.�Dari sisi agama juga banyak, mungkin sudah dikasih jalannya. Saya ketemu dengan orang-orang berpengalaman yang tahu agama, salah satunya dari Ustad Abu itu. Jadi begitu prosesnya, dari orang-orang yang pengalaman soal agama juga dari buku.

Dari mana datangnya dorongan untuk membeli buku-buku agama tersebut?
Dari diri sendiri. Kebetulan di tahanan Bareskrim ada orang Afganistan, dia orang syi’ah. Tanya-tanya sama dia. Dia cerita tentang sejarah Islam, soal khalifah. Dari situ ternyata masih banyak yang belum gue tahu tentang sejarah Islam.
(Ariel membeli banyak buku untuk meng-habiskan hari-harinya di Waru. Salah seorang rekan dekatnya mengatakan pelantun ”Di Balik Awan” itu sering menitipkan daftar belanjaan buku yang harus dibeli. Saya melihat daftar itu. Ada sepuluh buku baru yang harus dibeli, dua di antaranya adalah Alawite karya Ali Bin Abi Thalib dan Mutiara Ilmu Islam Ali bin Abi Thalib karya Waheeda El-Humayra. ”Saya cuma ingin baca yang macam-macam dan beda”, kata Ariel.)

Apa saja kegiatan di Kebon Waru?
Kalau di Waru, lebih banyak baca buku. Jarang berdialog seperti di Bareskrim. Paling olahraga sekali-kali. Jarang keluar sel. Makanya itu kemarin ada tabloid gila, bilang saya nggak pernah di dalam sel. Sakit jiwa! Mereka mungkin dapat bocoran di dalam, tapi dilebih-lebihkan, kesannya saya dapat keistimewaaan, padahal siapa yang diistimewakan?

Rajin bikin prosa juga?
Iya, soalnya kalau bikin lagu sepertinya nggak mungkin. Menciptakan lagu satu saja. Di sini dapat jatah (memakai ruangan musik di Waru) seminggu dua kali main. Kebetulan ada salah satu napinya yang jago musik. (Di tahanan, selain buku dan iPod, Ariel juga membawa buku tulis: isinya kalender buatan tangan, prosa, hingga coretan gambar).

Album yang� didengar selama di tahanan?
Nggak ada yang baru. Paling dengar Keane yang baru (Night Train Out), album sendiri yang baru (eks-Peterpan). Nggak terlalu banyak dengar yang lain, album-album lama Peterpan, Jack Johnson, Suede, Keane. Sudah, yang lain saya malas dengar. Oh ya, sama lagu Iwan Fals yang ”Bongkar”.

Anda dikenal sebagai pribadi yang misterius dan tertutup. Apakah proses penahanan ini membawa perubahan?
Kalau ke umum tetap saja seperti itu, untuk apa juga berubah. Aku nggak terlalu banyak keluar kamar soalnya, tapi masih tetap bersosialisasi dengan yang lain. Jadi dari sisi [kepribadian] nggak ada yang berubah dari aku.

Seberapa religius sekarang?
Ha-ha-ha, masih sedikitlah. Cuma lebih baik dari yang sebelumnya. Soal sholat lebih rajin, itu sepertinya terlalu sentimentil kalau gue bilang, ha-ha-ha. Susah diukur.

Terpikirkan, penerimaan sebagian publik tidak semudah sebelum kasus ini terjadi?
Aku nggak memikirkan itu. Peduli amatlah, bagaimana nanti saja. Kita lihat nanti.

Kangen manggung?
Lumayan. Kalau lagi ditahan, semua kangen. Kangen jalan-jalan, bukan manggung doang. He-he-he.�

Penilaian Anda pada media sekarang?
Saya menyayangkan media-media muda yang berorientasi ke gosip. Dari dulu saya beranggapan yang bisa mencerdaskan bangsa adalah media. Media-media baru ini kurang bertanggung jawab dengan apa yang dimakan oleh masyarakat. Harusnya pimpinan infotainment berpikiran kalau berita itu ditayangkan di televisi pukul sembilan pagi, ditonton anak-anak. Menurut saya, mereka kurang bertanggung jawab. Itu yang gue sayangkan.
Menulis berita silakan, wong itu kerjaannya. Kalau soal mereka senang memberitakan privasi saya, wajar. Yang nggak wajar itu tata caranya. Kita lihat di luar, seekstrem apa sih paparazzi dan infotainment di sana, mereka punya tata cara. Nggak sampai mendekat. Di sini, buat jalan saja nggak bisa. Mudah-mudahan dewan pers bisa menertibkan yang seperti itu.

Kasus ini melibatkan orang kepercayaan Anda, RJ. Adakah nilai yang berubah untuk mempercayai seseorang?
Nggak ada perubahan. Karena ini, benar-benar di luar kekuasaan manusia. Contohnya begini, polisi bertanya, apa barang kamu yang hilang? Nggak ada yang hilang. Kalau dalam mempercayai orang, ada poin-poin tertentu yang nggak akan berubah banyak. Yang terjadi di sini, sudah seizin Yang Di Atas. Nggak perlu jadi paranoid sama orang-orang.

Punya rencana pribadi setelah bebas nanti?
Sesudah kejadian ini, rencana tetap sama. Tapi gua nggak bisa bilang sekarang. Kalau dibicarakan, takutnya malah nggak jadi.
Usai beberapa kali bertemu di Pengadilan Negeri Bandung, Ariel menitipkan secarik kertas berisi prosa pertama yang ia buat saat masih ditahan di Bareskrim Mabes Polri. Kenapa ia bungkam pada media? Kenapa ia tidak membela diri? Prosa yang khusus ia berikan pada Rolling Stone Indonesia menjawab semua tanda tanya itu.
Jika saya bercerita sekarang
Maka itu hanya akan membuat sebagian orang memaklumi saya.
Dan sebagian lagi akan tetap menyalahkan saya.
Tetapi itu juga akan membuat mereka memaklumi dunia
yang seharusnya tidak dimaklumi.
Dan tidak ada yang dapat menjamin apakah, semua dapat memetik hal yang baik dari kemakluman itu,
atau hanya akan mengikuti keburukannya.
maka saya lebih baik diam.

Jika saya bersuara sekarang
maka itu hanya akan membuat
saya terlihat sedikit lebih baik
dan beberapa lainnya terlihat sedikit lebih buruk sebenarnya.
maka saya lebih baik diam.

Jika saya berkata sekarang
maka akan hanya ada caci maki dari lidah ini.
Dan teriakan kasar tentang kemuakan
serta cemoohan hina pada keadilan.
maka saya lebih baik diam.

Saya hanya akan berkata pada Tuhan,
bersuara kepada yang berhak,
berkata kepada diri sendiri
lalu diam kepada yang lainnya
lalu biarkan seleksi Tuhan
bekerja pada hati setiap orang


Bareskrim 2010�

Peterpan - Rabu, 12 November 2008, Fame Station, Bandung.

Lagu yang sedih bukan halangan untuk membuat suasana pesta menjadi meriah. Oleh Soleh Solihun. "Ariel! Ariel! Ariiiiel!" Beberapa orang perempuan berteriak memanggil nama vokalis Peterpan. Suara mereka bersaing dengan musik menghentak yang keluar dari pengeras suara. Beberapa menit lewat dari tengah malam, ketika saya tiba di Fame Station, Rabu [12/11]. Ratusan orang sudah memadati klub itu. Saking padatnya, ruang gerak buat mereka yang ingin berjoget sangat terbatas. Hanya menggoyangkan kaki, lutut, kepala dan sedikit pundak. Di luar, puluhan orang malah tak bisa masuk karena ruangan di dalam sudah terlalu penuh. Saya tak yakin apakah mereka datang karena ingin merayakan ulang tahun Fame Station yang ke-16 atau ingin melihat Peterpan. Yang jelas, kepadatan pengunjung sudah bisa dilihat sejak dari jalanan menuju klub. Banyak mobil diparkir di pinggir jalan. "Wuhuuuuh!" Beberapa dari mereka kini berteriak kegirangan begitu DJ mengganti musiknya. Mereka bertepuk tangan. DJ tersenyum simpul dari atas panggung. "Wash wesh wosh wash wesh wosh!" DJ itu mengucapkan sesuatu untuk menyemangati crowd. Suaranya samar-samar. Antara jelas dan tak jelas. Seperti suara pramugari di pesawat terbang menerangkan instruksi keselamatan. Tapi sepertinya sebagian besar crowd mengerti apa yang diucapkan sang DJ. Entah pura-pura mengerti untuk menyemarakkan suasana. "Wuhuuuuh!" Dan crowd berteriak kegirangan lagi. Bertepuk tangan lagi. Berjoget lagi. Sebagian dari mereka masih berteriak memanggil nama Ariel. Musik masih menghentak. Lampu laser berwarna hijau masih berkilatan. Adegan seperti itu berulang selama hampir satu jam. Teriakan memanggil nama Ariel. DJ mengucapkan sesuatu. Dan crowd berteriak kegirangan. Tak lama, seorang MC tipikal penyiar radio banci naik ke atas panggung. Membagikan satu hadiah ke penonton. Dia lantas memanggil seorang pria yang disebutnya "Bapak Party" Fame Station. Bapak Party itu kemudian memberi ucapan terima kasih. Dan memangil Peterpan. Begitu drummer Reza, gitaris Uki dan Lukman naik, teriakan crowd bertambah keras. Gong nya adalah ketika Ariel akhirnya muncul. Crowd menggila. Belasan oranglelaki dan perempuanlangsung mengeluarkan telepon genggamnya. Memotret vokalis yang sejak sejam sebelumnya dipangil-panggil. Clubbers itu pun mendadak berubah jadi kelompok paduan suara yang menyanyikan lagu-lagu Peterpan, di bawah komando Ariel ketika akhirnya Peterpan memulai penampilannya pukul satu pagi. Crowd yang tadi berjoget dan berteriak mengikuti irama musik yang dimainkan DJ, kini terlihat menikmati penampilan Peterpan. Fakta ini bisa berarti beberapa hal: crowd tadi memang crowd yang biasa clubbing sekaligus penggemar Peterpan, clubbers itu tipe yang akan menikmati segala jenis musik, dan yang terakhir ini menandakan musik Peterpan sangat dikenal oleh banyak orang sehingga banyak yang hapal liriknya. "Luna Maya! Luna Maya! Luna Maya!" kata sekelompok orang di depan panggung, sambil berjoget. Ariel tersenyum mendengar teriakan mereka. "Kita nggak usah ngomongin orang lain di sini ya," katanya mencoba menenangkan mereka. "Hayo! Siapa yang sudah ke Fame sejak SMP?" Pertanyaan itu dijawab oleh beberapa orang yang mengacungkan tangan. "Sama kayak gue dong!" Ariel tersenyum. Ariel sangat komunikatif. Setiap pergantian antar lagu, dia menerangkan sedikit cerita di balik lagu itu. Dia bergerak ke kanan panggung. Lantas ke kiri panggung. Membagi perhatian kepada crowd. Menyalami mereka yang menjulur-julurkan tangannya. Melemparkan senyum khas Ariel. Menjadi frontman yang baik. Mewakili teman-temannya yang lebih banyak diam sepanjang pertunjukkan. Hanya Uki yang hampir tak kalah atraktif dibandingkan Ariel. Kamera dari telepon genggam tak henti-hentinya mengabadikan setiap gerakan yang terjadi di atas panggung. Setelah memainkan sekira tiga lagu, Peterpan membawakan lagu "All I Want Is You" milik U2. Djundi Prakasha, pemilik Fame Station adalah penggemar berat U2. Semua bintang tamu yang bermain dalam acara ulang tahun klub itu, membawakan lagu "All I Want Is You". Bapak Party naik lagi ke atas panggung. Untuk sesaat mengambil alih komando Ariel. Bapak Party lalu memanggil beberapa orang untuk naik ke sana: perwakilan sponsor, serta sang tuan rumah Djundi. Uki, yang ditawari pelayan untuk bersulang dengan bir, menolak halus sambil tersenyum dan mengangkat botol air mineral miliknya. "Semoga Fame selalu mendukung musik Indonesia dan menyajikan live music!" kata Bapak Party. Kembang api menyala dari mulut panggung ketika adegan bersulang itu terjadi. Suasana memang jadi bertambah meriah. Tapi, asap yang ditimbulkan akibat pijaran kembang api itu, membuat hidung dan mata tak nyaman. Ini saja hal yang sedikit mengganggu dari pesta meriah pada dini hari itu. Setelah adegan bersulang, pesta kembali dilanjutkan. Ariel kembali mengambil alih komando di atas panggung. Paduan suara pun kembali bernyanyi. "Meskipun lagu-lagunya sedih, tapi malam ini kita harus bersenang-senang ya!" kata Ariel.

Ariel Peterpan: Suatu Hari Nanti, Pasti Semua Ini Diingat dengan Tertawa Percakapan dengan peraih Editor's Choice Award 2011 untuk kategori The Talk of The Nation

Jakarta - Nazril Irham mencium pipi dan tangan Nazrul Irphan. Anak dan ayah itu bertatapan sebentar, kemudian saling menyapa dengan penuh kehangatan. Selasa siang, 12 April 2011, sudah lima bulan pria yang lebih populer dengan nama Ariel Peterpan, atau Boril bagi teman-teman akrabnya, ada di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kebon Waru, Bandung. Ini adalah percakapan antara Editor Soleh Solihun dengan Ariel, untuk kepentingan penulisan feature Ariel yang mendapat Editor’s Choice Awards sebagai Talk of The Nation.

Agak ragu juga menanyakan kabar kepada orang yang sedang dipenjara, karena sepertinya tak baik-baik saja.
Baik-baik saja. Tapi bener sih baik-baik saja. Sudah lima bulan kan, pasti sudah beradaptasilah. Yang paling susah adaptasi sih soal tidur teratur, tapi lumayan cepat. Kalau di sini pukul enam sore sudah digembok. Baru bisa keluar, pagi. Ya itu saja yang susah, biasa keluar malem. Tapi sekarang jadi malah bagus, pukul sembilan malam tidur, bangun pagi.

Seperti apa suasana sel Anda?
Begitu saja sih ya. Kalau gue sebenarnya paling kecil, jadi jatah buat enam oranglah, sekarang tinggal berlima, karena ada yang keluar. Kasusnya ada yang curanmor, penganiayaan ringan, dan....aduh, gue lupa, jarang bertanya karena nggak sopan.

Apa yang pertama terlintas di kepala waktu pertama masuk?
Wah pasti ramai dan nggak tahu modelnya seperti apa. Ada yang malaikat, kalau tukang bunuh itu istilahnya malaikat karena mencabut nyawa. Tapi dari hari pertama semuanya baik-baik saja, orang-orangnya nggak ada yang aneh-aneh. Respek-lah. Pas pagi-paginya juga begitu. Paling banyak yang dateng, ngajak ngobrol. Nggak seseram itu.

Disambut baik itu apa karena Peterpan disukai?
Mungkin, memang tergantung kitanya. Harus pintar-pintar beradaptasi, kalau pintar bergaul nggak akan masalah.

Waktu pertama kali masuk sel, apa yang terbayang di kepala?
Ingin cepet-cepet keluar lah. Soalnya perpindahan suasana sel. Di Jakarta sedikit, di sana kan kecil, di sini kamarnya gede. Kalau di sana cuma berdua, di sini minimal tuh lima orang. Tinggi juga atapnya. Pertama masuk, bengong saja, nggak ada kerjaan. Akhirnya semua furniture bikin sendiri, lemari juga bikin sendiri. Meja dan rak bukunya.

Sebelumnya sudah pernah membuat seperti itu?
Belum, nggak ada waktu lah kalau di luar sana. Cuma, di sini barang-barangnya lengkap. Mesin-mesin buat memotong, untuk membengkokkan kayu ada. Di sini bagus lah.

Waktu vonis dibacakan, apa yang terbayang di kepala Anda?
Sebenarnya saat dibacakan dari awal, dibacakan teori-teorinya, sudah terbayang, wah ini pasti kena. Jadi kita lihat ini saja, dari awal, bukan OC Kaligis saja, banyak yang bilang, pakar hukum bilang bahwa harusnya ini nggak bisa diapa-apakan. Memang yang harusnya kena ya si penyebarnya. Jadi kami masih lihat apakah hakim akan berpegang pada undang-undang atau membuat hukum sendiri apa yang bisa dia lakukan.

Apa perasaan Anda waktu divonis?
Nggak tahu kan, itu dilema. Gue tahu mana yang benar dan salahnya. Jadi nggak ada perasaan sedih, marah segala macam. Cuma perasaan yah ini mesti dijalankan lebih lama lagi, karena dari awal sudah lihat skemanya. Kok begini kok begitunya, jadi sudah nggak aneh lagi. tinggal disikapinya aja.

Katanya ada kejadian mikrofon mati waktu vonis dibacakan?
Nggak, itu cuma hiburan. [tertawa]. Karena saat dibacakan putusan hakim, wah sudah pasti berat nih, jadi sudah nggak bisa pikir apa-apa lagi. Nggaklah, mikrofon mati cuma kebetulan. Nggak seru. Yang seru itu mengerjai fotografer. Kan ruangannya panas ruangan, kalau bergerak sedikit itu semua bunyi kamera. Gua menghindari berita yang dibuat-buat. Keringat mengucur saja ditahan-tahan. Setiap gerakan itu pasti difoto-foto, nah karena nggak ada kerjaan, sekali-kali gua kerjai.

Anda jadi sebal sama media karena pemberitaan ini?
Sebenarnya nggak sebal sama media, cuma menyayangkan. Kalau menurut gue, media itu harusnya membuat masyarakat lebih pintar dengan membaca media. Nah yang gue lihat sekarang itu nggak ke sana, apalagi media baru yang isinya full gosip. Nggak ada tujuan mencerdaskan bangsa istilahnya, ini orang-orang jadi bego. Ya itulah seperti dibilang [ada video gue] sama laki-laki, sama anak SMA di bawah umur, jadi yang gue lihat orang nggak bisa membedakan mana gosip mana fakta. Itulah yang jadi bikin begonya, yang gosip orang menyangkanya beneran, karena sudah terpatri pada gosip.

Gosip yang paling menyebalkan tentang Ariel Peterpan?
Sudah tahan banting sih gue [tertawa]. Sudah nggak ada yang menyebalkan banget lagi. Dulu ada si bapak polisi yang di Mabes Polri yang kalau ngomong sembarangan. Bilang gua nggak pernah puasa, siang-siang makan pas orang lagi pada puasa. Itu kan orang yang nggak biasa digosipkan bakal bilang, ‘Anjing!’ Ketemu saja nggak pernah, tapi ngomong di media begitu. Kadang-kadang nggak ada gunanya juga, kalau dipikirkan, capek. Kalau ditanggapi terlalu serius, ya capek sendiri.

Pernah menanggapi?
Ada satu kejadian. Saat sidang, gue melewati jendela dengan kosong di sebelah kiri, biasanya ada yang jaga kiri dan kanan. Nah saat itu gue bisa lihat yang demo, tiba-tiba di bawah ada yang mengacungkan jari tengah, saat itu gue spontan membalas. Cuma ada kamera yang meliput, jadi itu salah satu yang disesalkan juga, karena pemberitaannya jadi beda, kan nggak diceritakan di bawah ada yang mengacungkan jari tengah juga. Itu kepancing emosi sebenarnya. Harusnya didiamkan saja.

Yang paling menyebalkan dari semua ini?
Banyak sih sebenernya yang ingin gua omongin, tapi belum sekarang euy saatnya, karena masih proses.

Penjara Anda sekarang dekat dengan rumah, bagaimana rasanya?
Pindah ke Bandung saja sudah seneng, jadi nggak pernah memikirkan makin dekat ke rumah makin kangen. Tapi jadi lebih sering dijenguk. Secara udara juga lebih enak, di Jakarta kan nggak enak gedungnya, di sini sehat. Kalau di Jakarta, karena di dalam gedung, nggak ada matahari, pasang AC, semuanya merokok di dalam. Exhaust saja sebulan sudah kotor. Matahari nggak masuk, kulit jadi sering gatal.. sampai sini kan bisa olahraga, ada futsal segala. Di sana cuma tenis meja, di sini ada gudang kayu. Tidur juga jadi normal, seperti manusia lagi. Biasanya gue tidur pukul 12 siang, bangun sore agak malam, siang tidur lagi. Di sini sehat. Organ-organ tubuh jadi normal lagi. Saat di Jakarta kan sudah seperti mayat. Dan di sini temen-temen SMA jadi bisa sering jenguk. Kalau di Jakarta paling si Luna (Maya), temen-temen musisi kan sibuk. Yang pasti tahananannya juga orang Bandung kebanyakan, dan karena kejahatan mereka juga lugu, seperti 'Saya lapar saya curi kerbau', kalau ngobrol sama mereka jadi lebih santai. Kalau di Jakarta, kadang-kadang berat juga obrolannya, banyak politisi. Sebenernya positif, menambah ilmu, cuma capek. Orang-orang yang berpendidikan ngobrolnya beda. Lebih serius di sana, di sini lebih santai, enak. Yang masuknya kebanyakan ya curi batu, jadi orang-orangnya lebih lugu saja kalau ngomong, enaklah. Cuma nggak ingin lama-lama, seenak-enaknya juga.

Apa hal baru yang Anda temui di penjara?
Alhamdulillah masuk sekarang, sejak tahun berapa, kalau dulu sebelum ada HAM masuk ke LP, banyak kejadian seram, seperti berantem segala macam. Tapi setelah HAM masuk, semuanya jadi normal, dan itu yang nggak banyak orang tahu tentang penjara zaman sekarang, sudah seperti pesantren.

Anak baru diplonco?
Kalau itu masih ada, tapi setelah sudah lama, normal ya kami bercanda lagi. Kalau gue sih ya Alhamdulillah lancar. Di sini ada TV, mereka saja ngomong, “Urang penjahat oge tapi teu rido si Ariel beunang. Maenya nu kitu...” (Gue saja penjahat tapi nggak ridho si Ariel ditahan, masa yang begitu...) Jadi, ada simpati dari mereka. Suka lucu kadang-kadang kalau dengar dia ngomong gitu.

Karakter yang unik yang ditemui di sini?
Yang pasti banyak belajar karakter manusia. Bagaimana ya, nanti bisa merasakan sendiri lah kalau masuk. [tertawa]. Soalnya banyak kalau kita ngobrol...bukan menghibur diri ya...cuma mereka bilang, ada beberapa yang Alhamdulillah juga bisa merasakan masuk penjara. Ada sesuatu yang...ini benar-benar seperti pit stop, mau beres-beres dulu sebentar, refresh untuk memperbaiki segala macam.

Apa yang mendewasakan dari semua ini?
Bersabar [tapi] ditahan [tertawa]. Gila, kalau misalnya nggak kuat-kuat banget, orang bisa stress. Banyak orang begitu kalau di dalam sini, dia bisa konsentrasi sholat, berpikir dan segala macam. Cuma ya pengorbanannya itu saja, kebebebasan. Diuji mental, bagaimana caranya biar kuat. Di dalam sini kan berkecamuk terus, cara menstabilkan diri. Kalau nggak, bisa bunuh diri.

Pernah frustrasi tingkat tinggi?
Nggak, dari awal juga nggak. Soalnya awal juga kan nggak seperti diberitakan, gue datang sendiri, bukan ditangkap.

Kenapa waktu itu mau datang?
Pengacara sih [yang menyarankan], memang waktu itu juga aneh. Kenapa [beritanya bilang] dicari? Kenapa mesti ditahan? Itu yang bikin gue menolak. Akhirnya ya kata nasehat pengacaranya, daripada nanti nggak bagus, mungkin dengan begini lebih bagus. Akhirnya datang, pukul dua pagi, ngobrol sebentar terus masuk.

Sudah tahu bakal ditahan?
Memang sudah tahu.

Butuh keberanian besar untuk mengambil keputusan itu?
Lumayan, itu pun yang sudah dikuat-kuatkan, kata orang di sana, itu pun masih kelihatan pucat banget [tertawa]. Waktu sampai di sana, lagi ramai, ada kasus 303, perjudian. Mereka lagi berkumpul. Gue sudah siap-siap, tas segala macam, 'Tenang, tenang.' Saat masuk ada perasaan asing, cuma setelah berapa hari netral lagi. Pasti semua orang pas masuk ke sana merasa agak mengambang, antara nyata dan nggak nyata.

Waktu hari pertama masuk, apa yang paling ditakutkan?
Nggak ada sih sebenarnya, cuma bagaimana cara biar nggak bosen saja. Soalnya tahu nih pasti bosen banget. Karena gue kan hidup di jalan berapa tahun, selalu tur, atau sebelum ini juga orang nggak tahu, pas nonton konser /rif gue pernah tidur di taman kota, nggak masalah dengan itu. Gue nggak terlahir sebagai orang yang biasa dimanja, untuk masalah beradaptasi nggak terlalu susah, cuma ya itu tadi, pasti bosan.

Skala satu sampai sepuluh, berapa tingkat rasa bosannya?
Bisa sampai sepuluh. Cuma ya itu pintar-pintarnya kita. Nah itu mental dilatih. Dan kebanyakan orang bisa kok.

Penjara membuat Anda jadi orang yang lebih baik?
Bisa, ya merasa sih sebenarnya. Bukan secara moral, baik secara disiplin, banyak deh kalau dipikir-pikir. Cuma ya amit-amit sih, jangan sampai lama di sini. Gue selalu mensyukuri, jadi nggak akan ada... Gue tulis di tembok itu, ‘Kesusahan macam apa yang bisa membunuh hati yang selalu berbahagia?’ Jadi ya itulah. Dalam kondisi apapun, kalau kita selalu berbahagia, ya berbahagia.

Itu lirik lagu baru?
Bukan [tertawa]. Gue lebih senang ditulis di buku.

Kenapa tak mau menyanyikan soal itu?
Belum kepikiran, karena selama di sini nggak timbul mood untuk bikin lagu, lebih ke hal-hal yang nyata, lebih cepat, seperti membuat lemari. Jadi, singkatlah waktunya, nggak terasa.

Ini cobaan terberat dalam hidup Anda?
Mudah-mudahan iya, mudah-mudahan nggak ada yang lebih berat lagi [tertawa].

Melihat ke depan, apa yang ingin Anda katakan untuk diri sendiri?
Wah, terlalu banyak kalau gue bicarakan, yang pasti pintar-pintar mengingat saja, karena penyakit nomor satu kan cuma lupa. Kalau melakukan yang salah, berarti lupa yang benarnya. Jadi selalu ingat-ingat saja.

Dari kejadian ini, apa yang ingin diingat?
Agak rumit. Kejadiannya gue inget bener. Masalah berhadapan sama hukum dan segala macam, banyak hal.

Sepuluh tahun lagi bagaimana Anda ingin mengingat semua ini?
Suatu hari nanti, pasti semua ini diingat dengan tertawa. Suatu hari, setiap masalah itu pasti jadi bahan tertawaan buat yang mengenangnya. Sepuluh tahun lagi gue pasti ketawa-ketawa mengingatnya, soalnya yang dulu juga begitu, menertawakan kebodohan, menertawakan kelucuan.

Lagu Peterpan yang paling cocok untuk keadaan Anda sekarang?
Nggak ada. Nggak kepikiran soalnya, nggak kepikiran situasi yang seperti ini soalnya. Belum ada sebenarnya yang bisa mewakili [momen] ini, mungkin nanti. Bukan judul lagu ya [terkekeh].